Halo IMMawan/ti Selamat Datang!. Informasi Kami.
المشاركات

Bukan luka berdarah, tapi membunuh perlahan

Bukan luka berdarah, tapi membunuh perlahan 

Oleh : Zeniar Nur Aulia 

Di tengah dunia yang sibuk dan penuh tekanan, di antara tawa dan postingan kesuksesan, ada suara yang tak terdengar. Ada jiwa yang tampak baik-baik saja namun menyimpan luka yang memang tak berdarah namun habis menggerogoti jiwa, mengacaukan pikiran dan membunuh perlahan. Generasi saat ini yang sedang berhadapan dengan krisis kesehatan mental.

Menjadi salah satu pemicu yang sering dianggap sepele adalah bullying atau perundungan. Memang tak selalu meninggalkan memar di kulit, namun kerap menghancurkan dari dalam. Perundungan bisa datang lewat kata-kata tajam, candaan yang kelewatan atau komentar yang dianggap biasa namun kerap kali hal tersebut menjadi batu terakhir yang menjatuhkan. Baik verbal, sosial, maupun cyberbullying hingga membuat seseorang merasa tak berharga bahkan sampai kehilangan harapan hidup. 

Dari data WHO (World Suicide Report, 2021) lebih dari 727.000 jiwa yang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya, dan sebagian besar kasus terjadi pada usia 15 sampai 29 tahun. Angka bukan hanya sekedar statistik, dibalik nya ada kisah mereka yang merasa dunia tak lagi berpihak, yang tenggelam dalam sepi dan memilih untuk diam selama mungkin sebelum akhirnya benar-benar hilang.

Beberapa waktu terakhir, kita kerap kali mendengar kasus bunuh diri yang dialami kebanyakan oleh mahasiswa yang mengakhiri hidupnya. Dibalik headline singkat yang kerap lewat di media, ada kisah panjang tentang tekanan akademik, masalah keluarga, tuntutan ekonomi, masalah gangguan mental, dan rasa yang menumpuk tanpa tempat diceritakan. Mereka tak berdarah, namun perlahan kehilangan nyawa dalam diam.

Gangguan mental sendiri punya banyak bentuk dan seringkali tak terlihat dari luar. Seperti depresi, kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai. Bipolar disorder, perubahan suasana hati antara fase manik yang terkadang merasa terlalu gembira dan bersemangat namun terkadang bisa tiba-tiba jatuh ke fase depresif yang penuh rasa putus asa. Post Traumatic Stres Disorder (PTSD), gangguan yang muncul karena peristiwa traumatis pada masa lalu serta Anxiety disorder yang membuat seseorang terus merasa cemas bahkan untuk hal-hal kecil. Semua itu nyata dan bukan karena seseorang lemah, mereka sedang berjuang dengan luka yang tidak hanya bisa disembuhkan dengan nasihat "semangat ya" namun dukungan dari lingkungan yang berpengaruh besar untuk mereka.

Krisis kesehatan mental bukan hanya urusan pribadi, namun menjadi cermin bagi kita bagaimana memperlakukan satu sama lain. Terkadang yang dibutuhkan bukan berapa banyaknya opini, namun satu kepedulian kecil mendengar tanpa menghakimi, hadir tanpa sibuk memberi nasihat. lingkungan kampus, keluarga dan masyarakat berharap bisa menjadi ruang yang aman untuk bercerita, bukan tempat di mana kesedihan menjadi bahan lelucon. 

Kepedulian tidak harus berawal dari hal yang besar. Memulai dari hal sederhana dengan belajar mendengar tanpa menghakimi, membentuk ruang obrolan tanpa stigma, atau ikut pelatihan tentang mental health awareness. Karena menjaga kesehatan mental bukan hanya tentang mencegah kematian, namun tentang bagaimana kita memberi kesempatan agar setiap orang bisa benar-benar hidup dengan tenang tanpa harus berpura-pura kuat untuk setiap harinya.

Editor: Bidang Riset Pengembangan Keilmuan PC IMM Ahmad Dahlan Kota Surakarta

إرسال تعليق

Akses seluruh artikel dengan mudah melalui smartphone!